Kamis, 12 September 2013

HORJA PANABALAN



HORJA PANABALAN  HUTA
SILANTOM JAE LUMBAN BOSI HUTA TONGA

Selama empat puluh tahun dalam penantian untuk dapat mewujudkan cita-cita para perintis pemukiman di Huta Tonga hingga sampai ke tahap PANABALAN. tetntu bukanlah waktu yang pendek untuk ukuran penetapan sebuah Huta karena disamping butuh kesabaran dan perjuangan juga harus rela melepas kepergian beberapa Tokoh perintis (Meninggal) tanpa ikut merasakan, menikmati kemeriahan dari acara-demi acara yang notabene ikut mereka cita-citakan sewaktu masih hidup.

Tepat pada tanggal 20 s/d 22 Agustus 2012 Horja pun di selenggarakan Tepat di Halaman Huta Tonga dengan diserahkannya Tuku (Topi kebesaran Adat) leh Raja-raja Huta yang diwakili Op.Hernida Pakpahan selanjutnya di terima Oleh Op. Agnes Pakpahan sebagai pemangku Harajaon Huta. Selanjutnya dengan di Iringi Ogung dan Rombongan Semua Harajaon Haruaya mardomu bulung, acara di lanjutkan dengan Manyuan Bulu sebagai tanda Bahwa Huta tersebut dapat  memiliki atura adat  tersendiri Seperti Filosofi Batak,: Sinuan Bulu siahen na Las, sinuan Uhum sibahen asa Horas,,,

Detik-detik Penyerahan Tuku

Rabu, 11 September 2013


Jangan Takut!

Rabu, 02 Mei 2012

Sejarah silsilah dan Tarombo Batak dari Si Raja Batak


grave on samosir island lake toba
Bangsa Yang besar adalah bangsa yang melestarikan Kebudayaan.Berikut merupakan Silsilah/Tarombo Batak yang mungkin terlupakan seiring masuknya Budaya asing ke Bangsa Indonesia.
SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:
1. Guru Tatea Bulan
2. Raja Isombaon
GURU TATEA BULAN
Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Burning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :
* Putra (sesuai urutan):
1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan
2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)
3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).
4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)
5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)
*Putri:
1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)
2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon
3. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)
4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).
Tatea Bulan artinya “Tertayang Bulan” = “Tertatang Bulan”. Raja Isombaon (Raja Isumbaon)
Raja Isombaon artinya raja yang disembah. Isombaon kata dasarnya somba (sembah). Semua keturunan Si Raja Bbatak dapat dibagi atas 2 golongan besar:
1. Golongan Ttatea Bulan = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga golongan Hula-hula = Marga Lontung.

2. Golongan Isombaon = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga Golongan Boru = Marga Sumba.
Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja, para orangtua menyebut Sisimangaraja, artinya maha raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak.

PENJABARAN
* RAJA UTI
Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng). Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi, namun secara fisik tidak sempurna. Karena itu, dalam memimpin Tanah Batak, secara kemanusiaan Beliau memandatkan atau bersepakat dengan ponakannya/Bere Sisimangaraja, namun dalam kekuatan spiritual etap berpusat pada Raja Uti.
* SARIBURAJA
Sariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu peremuan satunya lagi laki-laki).
Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Saribu Raja mengawini adiknya, Si Boru Pareme, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.
Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Rraja, dan Silau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk mengusir Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia.
Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi “istrinya” di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.
Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si raja babiat. Di kemudian hari Si raja babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.
Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus.

SI RAJA LONTUNG
Putra pertama dari Tuan Sariburaja. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu:
* Putra:
1.. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.
2. Sinaga raja, keturunannya bermarga Sinaga.
3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.
4. Toga nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.
5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.
6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.
7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.
* Putri :
1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.
2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.
Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora.
Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu.
Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.
SINAGA
Dari Sinaga lahir marga-marga cabang Simanjorang, Simandalahi, Barutu.
PANDIANGAN
Lahir marga-marga cabang Samosir, Pakpahan, Gultom, Sidari, Sitinjak, Harianja.
NAINGGOLAN
Lahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.
SIMATUPANG
Lahir marga-marga cabang Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.
ARITONANG
Lahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.
SIREGAR
Llahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.
* SI RAJA BORBOR
Putra kedua dari Tuan Sariburaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut Marga Borbor.
Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :
1. Datu Dalu (Sahangmaima).
2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.
3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap.
4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.
5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.
6. Simargolang, keturunannya bermarga Imargolang.
Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut :
1. Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat.
2. Tinendang, Tangkar.
3. Matondang.
4. Saruksuk.
5. Tarihoran.
6. Parapat.
7. Rangkuti.
Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.
Limbong Mulana dan marga-marga keturunannya
Limbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong yang mempunyai dua orang putra, yaitu Palu Onggang, dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada tiga orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole, dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.


SAGALA RAJA
Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.
SILAU RAJA
Silau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan yang mempunyai empat orang putra, yaitu:
1. Malau
2. Manik
3. Ambarita
4. Gurning
Khusus sejarah atau tarombo Ambarita Raja atau Ambarita, memiliki dua putra:
I. Ambarita Lumban Pea
II. Ambarita Lumban Pining
Lumban Pea memiliki dua anak laki-laki
1. Ompu Mangomborlan
2. Ompu Bona Nihuta
Berhubung Ompu Mangomborlan tidak memiliki anak/keturunan laki-laki, maka Ambarita paling sulung hingga kini adalah turunan Ompu Bona Nihuta, yang memiliki anak laki-laki tunggal yakni Op Suhut Ni Huta. Op Suhut Nihuta juga memiliki anak laki-laki tunggal Op Tondolnihuta.
Keturunan Op Tondol Nihuta ada empat laki-laki:
1. Op Martua Boni Raja (atau Op Mamontang Laut)
2. Op Raja Marihot
3. Op Marhajang
4. Op Rajani Umbul
Selanjutnya di bawah ini hanya dapat meneruskan tarombo dari Op Mamontang Laut (karena keterbatasan data. Op Mamontang Laut menyeberang dari Ambarita di Kabupaten Toba Samosir saat ini ke Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Hingga tahun 2008 ini, keturunan Op Mamontang laut sudah generasi kedelapan).
Op Mamontang Laut semula menikahi Boru Sinaga, dari Parapat. Setelah sekian tahun berumah tangga, mereka tidka dikaruniai keturunan, lalu kemudian menikah lagi pada boru Sitio dari Simanindo, Samosir.
Dari perkawinan kedua, lahir tiga anak laki-laki
1. Op Sohailoan menikahi Boru Sinaga bermukim di Sihaporas Aek Batu
Keturunan Op Sohailoan saat ini antara lain Op Josep (Pak Beluana di Palembang)
2. Op Jaipul menikahi Boru Sinaga bermukin di Sihaporas Bolon
Keturunan antara lain J ambarita Bekasi, dan saya sendiri (www.domu-ambarita.blogspot.com atau domuambarita@yahoo.com)
3. Op Sugara atau Op Ni Ujung Barita menikahi Boru Sirait bermukim di Motung, Kabupaten Toba Samosir.
Keturunan Op Sugara antara lain penyanyi Iran Ambarita dan Godman Ambarita

TUAN SORIMANGARAJA
Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.
2. Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.
c. Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon).
Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.
Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.
Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.
Nai Ambaton (Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon)
Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut nama ibu leluhurnya.
Nai Ambaton mempunyai empat orang putra, yaitu:
1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon.
2. Tamba Ttua, keturunannya bermarga Tamba.
3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi.
4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte).
Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W. Hutagalung):
SIMBOLON
Lahir marga-marga Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan. Juga marga-marga Berampu dan Pasi.
TAMBA
Lahir marga-marga Siallagan, Tomok, Sidabutar, Sijabat, Gusar, Siadari, Sidabolak, Rumahorbo, Napitu.
SARAGI
Lahir marga-marga Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke.
MUNTE
Lahir marga-marga Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging.
Keterangan lain mengatakan bahwa Nai Ambaton mempunyai dua orang putra, yaitu Simbolon Tua dan Sigalingging. Simbolon Tua mempunyai lima orang putra, yaitu Simbolon, Tamba, Saragi, Munte, dan Nahampun.
Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antarsesama marga keturunan Nai Ambaton.
Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh.
Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (mpu bada) bermarga gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut:
1. Ompu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa.
2. Keenam marga tersebut dinamai Sienemkodin (enem = enam, kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan Empu Bada, pun dinamai Sienemkodin.
3. Ompu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan si raja batak dari Pusuk Buhit.
4. Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah dairi. Keturunan Ompu bada merupakan ahli-ahli yang terampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
5. Keturunan Ompu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah dairi dan tapanuli bagian barat.

NAI RASAON (RAJA MANGARERAK)
Nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.
Raja Mangarerak mempunyai dua orang putra, yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Ada empat marga pokok dari keturunan Raja Mangarerak:
Raja Mardopang
Menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.
Raja Mangatur
Menurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung. Marga pane adalah marga cabang dari sitorus.
NAI SUANON (tuan sorbadibanua)
Nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Ttuan Sorbadibanua.
Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra.
Dari istri pertama (putri Sariburaja):
1. Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan.
2. Si Paet Tua.
3. Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi.
4. Si Raja Oloan.
5. Si Raja Huta Lima.
Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :
a. Si Raja Sumba.
b. Si Raja Sobu.
c. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos.
Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan – Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja huta lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang tiga orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki Gunung Dolok Tolong sebelah barat.
Keturunana Tuan Sorbadibanua berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.
Keturunan Si Bagot ni pohan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Tampubolon, Barimbing, Silaen.
2. Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution.
3. Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi.
4. Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.
Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Hutahaean, Hutajulu, Aruan.
2. Sibarani, Sibuea, Sarumpaet.
3. Pangaribuan, Hutapea.
Keturunan si lahi sabungan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Sihaloho.
2. Situngkir, Sipangkar, Sipayung.
3. Sirumasondi, Rumasingap, Depari.
4. Sidabutar.
5. Sidabariba, Solia.
6. Sidebang, Boliala.
7. Pintubatu, Sigiro.
8. Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol.
Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa.
2. Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga.
3. Bangkara.
4. Sinambela, Dairi.
5. Sihite, Sileang.
6. Simanullang.
Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Maha.
2. Sambo.
3. Pardosi, Sembiring Meliala.
Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro.
2. Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.
Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Sitompul.
2. Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.
Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan.
2. Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.
(Marbun marpadan dohot Sihotang, Banjar Nahor tu Manalu, Lumban Batu tu Purba, jala Lumban Gaol tu Debata Raja. Asing sian i, Toga Marbun dohot si Toga Sipaholon marpadan do tong) ima pomparan ni Naipospos, Marbun dohot Sipaholon. Termasuk do marga meha ima anak ni Ompu Toga sian Lumban Gaol Sianggasana.
***
DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)
Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga).
Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut:
“Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;
Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan”
artinya:
“Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput (berakar tunggang);
Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji”
Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:
1. Marbun dengan Sihotang
2. Panjaitan dengan Manullang
3. Tampubolon dengan Sitompul.
4. Sitorus dengan Hutajulu – Hutahaean – Aruan.
5. Nahampun dengan Situmorang.
(Disadur dari buku “Kamus Budaya Batak Toba” karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987)


SIPARROHAHONON LAHO MANGULAHON ADAT BATAK

Ringkot do botoon manang parrohahonon angka dasar-dasar laho mangulahon adat Batak i  alana saonnari nungnga godang angka  nasomangantusi filosofi nang dohot tujuan ni angka paradaton i, gabe olo ma holan formalitas di ulahon naso mangonai tu nilai –nulai luhur budaya Batak jala laos ido mambahen godang generasi muda ndang tartarik be laho marsiajar ala didok rohana ndang sesuai be tu  kehidupa modernisasi nuaeng namamereng sude ulaon sian sudut Efisiensi ( waktu, biaya, energi )
Alani andoran so sahat hita tu teknis pelaksanaan adat Batak parjolo  ma ta antusi angka ahado dasar si parrohahonon di waktu mangulahon adat i.:

  1. HOLONG DO ONDOLAN NI ADAT BATAK.

Nasomal holan dua do jenis ni ulaon adat  batak ima ualaon Las ni roha Dohot habot ni roha ( siriaon dohot silulon molo di selatan), jala patar do idaonta disi mardalan holong niroha tu namanghasuhuthon ulaon ni  ala marroan ma angka tutur dohot natorop laho mangurupi nasa naboi tarbahensa termasuk gogo/ materi/ sumbangan pendapat.
Ala holong do ondolanna, jadi  si ingoton dinamangulahon  ulaon adat i, naeng porlu botoon.

-1. Unang  Pakarashu mampartahanhon nibinoto.

Sahat tu nuaneng ndang adong naumboto 100 % taringot tu cara pelaksanaan ni adat batak i , alani marsipaunean ma di pangkataion .
         
Sai didok ; Aek godang tu aek laaut,
              Molo dos roha ido sibahen na saut,
Jala marsi paleanan roho taringot di namasa di inganan ni ulaoni.
Solup na nidapot do,parsuhathononhon (hasomalan namasa di inganan parpestaan ido si ihuthonon.)

2. Ikkon botoon parhundul niba di namangkatai.

Molo ditingki pangkataion naeng ma porlu botoon parhundul asa fokul  tu hata nanaeng si hataon .  misalna. Molo posisi manghasuhuhon do, denggan ma taarahon pangkataion holan tu hata mangampu . ima mandok mauliete tu sude tutur na pasahathon hata nauli dohotnadenggan  jala molo boi jojor ma dipasahat mauliate mulai sian tutur na tumimbo. Laos songoni do sebalikna.


3. Taringot tu namandok umpasa.

Molo umpasa i ima hata pasu-pasu doi manang pangidoan na nihatahon berbentuk Pantun
(kata-kata yang Indah ) hombar tu jenis ni ulaoni.. asa porlu parrohahonon ima.
a)    Molo naeng pasahat umpasa   sai dumenggan do jojo nidok.”Sai dilehoTuhanta ma di hamu saongon na nidok ni umpasa on.”……..
b)   Napatut mandok umpasa. Somalna sian tutur na tumimbo do. Misalna ; hula-hula tu boru, Ama / ina tu anak / boruna, haha tu angina.  Alai molo porlu  boi do sian tutur na tumoruk mandok umpasa jala somalna di pajolo ma dohon hata ; “ Santabi ma dihamu…..songon tangiang do sian hami Songon na didok Umpasa ……… ( Note; molo tangiang dang marimbar manang sian ise las denggan do rap marsitangiangan.)
c)    Ikkon maratur do dohonon Umpasa hombar tu ulaon i.

B. DALIHAN NA TOLU
Dasar hukum / ugari ni sude ulaon adat batak ima Dalihan natolu. Na boi pasadahon paradaton ni halak batak sahat tu sude luat dohot tu sude lapisan masyarakat. Bahkan dalihan na tolu boi magihot halak batak nang pe asing ugamo, daerah, dohot strata ekonomi manang jabatan.
Poda dalihan na tolu i ima :
         
1 Somba marhula-hula.
Hula-hula molo di halak batak ima sude baoa / nasamarga dohot  isteri, ibu, nenek dst (giving party) .ala halak bata mamangke system Paternalistik (garis keturunan dari Pihak laki-laki) asa marga na dipakke ima marga ni baoa. Jadi dang tarida be di marga ni inanta dig oar ni anak dohot boru. Ala ni i Ikkon do hormat (somba dalam istilah) tu Pihak ni Hula-hula ala nungnga di relahon nasida marga ni boruna ndang be dohot tu sude keturunanna. Asa najolo didok ma “ naso somba marhula-hula siraaon ma gadongna
         
2. Manat mardongan tubu
Sude pihak baoa /Na samarga (in group ) . somal didok” nasa mudar” manang molo di ulaon sai adong istilah sisada anak sisada boru. Ala songoni ma jonok na partuturon i, olo ma salpu pangkataion manang pangalaho, asa porlu do asa tong-tong manat diangka pangalaho tarlumobi molo masa ulaon.
 Godang do istilah didok taringot tu namardongan tubu. Adong mandok” tampulon aek do namardongan tubu,’ las adong mandok molo so manat mardongan tubu natajom ma adopanna.
         
3. Elek marboru
Horong ni boru ima sude namangalap  boru ni margai manang naung manjalo boru sian marga i (wife reciving party) . molo di halak adong do istilah anak sijujung goar jala boru do hamoraon . molo taparrohahon hampir di sude suku do lumobi halak batak, sai tu boruna do natua tua lebih terbuka sian tu parumaen, las songoni do sebalikna. Ala ni i  ikkon malo do mambuat  roha ni boru asa olo mangoloi hula- hula di ulaon ahape. Jala dang denggan asal marsuru tu boru alai naeng  ma dibagasan haelekon.
 Molo so elek marboru  andor abian ma tarusanna.       
Dalihan natolu nagabe dasar ni paradaton di halak Batak dang boi lepas sian kehidupan sehari-hari. Jala  molo hot di filsafat dalihan natolu pasti memiliki sopan santun manang etika/estetika dalam kehidupan sehari hari

Senin, 03 Oktober 2011

Panduan Pangkataion Raja Parhata Ulaon adat Batak Toba

Panduan Pangkataion Raja parhata Parsinabul Bagian  II

Sahat ma tu Parsinabul (Raja parhata)
KET :  (RPB: Raja parhata Boru  ; RPA:Raja parhata paranak)

RPB:   “Onpe dihita namarhaha maranggi pomparan ni ompunta raja……(.Margana)
Suang songoni boru/bere, dongan sahuta nang ale-ale, raja naginokkon. Asa tamulai pangkataion, tapadenggan ma parhundulta . “suang songoni ma dihamu raja nihula-hula nahuparsangapi hami, raja sipanggompar sipanggabe di hami, mulai sian bona ni ari sahat tu hula-hula anak manjae, Rajanami; raja bolon,ala naeng mulaan nami nama pangkataion rap dohot pamoruon nami, sonang ma hamu rajanami diinganan naung huparade hami,
Hata ni situa tua namandok:
Molo boltok inna eme, russang ma angka dauba,
Molo marulaon gelleng, manuturi ma raja ni hula-hula
Alani pos do rohanami, diangka panuturion muna, mauliate ma.
Diadophon ma muse tu pamoruon,
Nuaneng pe amang boru, nungnga rade hami, asa tamulai pangkataion, dipasahat partingkian tuhamu.

RPA:   Gabe ma jala horas rajanami, mangido hami partingkian asa jolo pasada tahi hami dianggka namarhaha maranggi,

RPB:   Ulahon hamu ma amang boru !!

Dung masiarisan namanrhaha-maranggi  laho manontuhon parsinabul (rajapangalusi) catatan : Pangkataion dos do songon pangkataion nadiginjang ima namanontuhon parsinabul ni Parboru.

RPA:   ‘Nuaeng pe rajanamji taududi ma pangkataion nungnga rade hami raja ni pamoruon muna,

RPB:   Dihamu rajani pamoruon nami Marga ……
          Poda ni ompunta sijolo-jolo tubu namandok:
I.             Artia do inna bona ni ari,
Samisara bona ni bulan,
Asa raja, hita namangkatai,
Pasahat hamu ma jolo pinggan panungkunan,

          II        Ulido inna tano palopi,
                   Ummulian tano hatoguan,
                   Asa sude hita siuli nipi,
                   Pasahat hamu ma pinggan panungkunan,

RPA:   Gabe ma jala horas rajanami, hata ni situa tua namandok:
          Baris baris ni Gaja ,dirura pangaloan, Molo maminta raja denggan ma tutu oloan
          Molo so nioloan, atik beha iba agoan Molo dung dioloan, tamba ma tutu parbinotoan.
         
Nuaeng pe rajanami pasahaton nami ma pinggan panungkunan
(disuru ma boruna parlopes pasahathon tu parsinabul ni parboru.

RPB:   Nuaeng pe amang boru nungnga tangkas hujalo hami pinggan panungkunan, pinggan pasu. Hatahonon nami ma songon parhitean ni tangiang , pamintaan ni angka pasu-pasu, dipogu ni alaman ditonga ni mangajana,
“Adong  dibagas na parbue ni hau siribur-ribur, santi madingin santi matogu
 Asa rindang ma hita dianak rindang dohot diboru,
 Jala torop maribur, nang  diangk pahompu, Songani napuran tiar sirara hadop, sibulung rata,  Asa tiarma dalan tujulu, tiar nang dalan tu jae,
Ulaonta dibagasan sadarion Pasu-passuon ni amanta namartua Debata,
Singkop muse dibagasna ringgit sitio suara, rupiah nabolak, ringgit na marmata, sipalas rohani amanta raja,  suang songoni inanta soripada,
Asa songon tangiang namarunung-unung ,sarune na marhata hata, marpangidoan tu amanta raja tarlubobi tu amant Debata,
Asa sahat-sahat ni solu ma inna amang boru, sahat dirondang ni bulan tula,
Nungnga sahat tuhami pinggan panungkunan,
asa leleng mahita mangolu , jala sahat ma hita tu nasaur matua.

Andoraan so hupaulak hami on tu amang boru, jumolo ma hubuat hami nadihami, (laos dibuat ma sian ringgit I  biasana 3 lembar dipasahat ma tu hasomalanna.)

RPB:   Amang boru ;
 “ Dolok pangururan inna hatubuan ni si marharhalosi,
Nungnga hujalo hami pinggan panungkunan,
paulahon nami ma aon gabe pinggan pangalusi.

RPA:   Gabe ma jala horas rajanami, nga sahat be tuhami pinggan pangalusi ,
mauliate ma

RPB:   Nuaeng pe amang boru tauduti ma pangkataionta; “ Mauliate ma di Tuhanta, mauliate ma nang di hita saluhutna, dibagasan hahipason do hamu amang boru/namboru , rap dohot uduran muna, Rohamu sian huta muna marhire-hire ombun, maronding-onding dolok mandapothon hami tu…………mamboan sipanganon natabo. Nungnga butong hami mangan indahan las , sagak marlompan juhut, dohot minim aek sitio-tio,
         
Godang inna sibutong-butong,otik si pir ni tondi,
Pamurnas mai tu daging, saudara mai tubohi,
Sipaulak hosa loja, sipaneang holo-holi,
Diape natasangkapi sai manumpak ma Debata mula jadi,

Asa  borta namarhalto ma inna, naniagatan titonga-tonga ni robean,
Horas ma hami angka namanganthon ,
martamaba ma dihamu singkat ni namangalean

Raja do inna urat ni uhum, indahan do urat ni hosa,
Sise do mula ni uhum , asa sungkun do mula ni hata

Asa namanungkun ma hami amang boru disintuhu ni indahan masak, naung ta hasagathon i.
Diama nangkatna, dia ma unokna,
Dia ma amang boru hatana, jala dia ma nidikna ?

Note:- Marhire-hire ombun, maronding-onding dolok lapatanna pardalanan nasian huta  nadao
Borta namarhalto= Dumenggan do dohonon sian bagot na marhalto

RPA:   Gabe ma jala horas rajanami, andorang so hualusi hami sungkun-sungkun ni rajai, jumolo ma hupasahat hami huhuasi ni sipanganoni. Molo tung songoni pe rajanami naboi tarpasahat hami, pasangaphon hamu hula-hula nami , tung las ma rohamuna rajanami, sai manumpak ma topndimuna marhite-hite tangiang muna, ditambai Tuhanta ma dihami passamotan dohot hinadongan, asa sai adong bahenon nami laho pasangaphon hamu hula-hula nami,
          “dinamanungkun ma rajai disintuhu ni indahan masak;, ‘Panggabean parhorasan do nidokna rajanami,!’
          Botima,

RPB:   gabe ma jala horas amang boru, “mansai las roha nami di barita panggabean parhorasan nabinoan muna tu hutanami on, Nang ditangiang nami pe antong tu amanta Debata, sai ditambai ma dihamu hahipason, dohot las ni roha, suang songoni, nang sinadongan asa lam marsangap hami, hula-hula muna jala martua hamu nang boru nami. Alai amang boru mardangka do bulung sihupi, margota  bulung ni  demban
          Marangkup do nauli, mardongan do nadenggan,
          Marangkup do inna songon na hundul, mardongan songon na mardalan, siangkup ni panggabean parhorasan nahinatahon muna ido amang boru nahupatangkkas hami,
          Asa tangkas ma inna purba, tangkas nidok ni angkola,
          Asa tangkas hamu maduma,jala tangkas nang mamora ,  ia sungkun sungkun nami hula- hula muna tung tangkas ma amang boru paboa !!

RPA:   Gabe ma jala horas  rajanami,! “Marangkup do tutu nauli mardongan do nadenggan, masiangkup ma tutu songan na hundul, masidongan songin na mardalan.
 Asa tangkas ma inna Purba, tangkas ma nang angkola,
Asa tangkas tutu hami maduma, sungkun ni hula-hula pinatangkas ma pinaboa,
Raja nami raja bolon;,
“ Diangka bulan bulan na salpu, borhat do anak nami mardalani tu huta ni datulang, tu huta… ….huta ni rajai. Dinasopanagaman pajumpang ibana dohot boru ni rajai,,,. Marnida hinauli ni rupa dohot uli ni pangalaho ni boru nirajai, laos did ok hatana tu boru ni rajai,,…..
las dialusi boru nirajai Huhut dihatahon,,

Ue silaklak ni antajau, sirege-rege ni ampang,
Ue  si anak ni amangboru, ibebere ni damang,
 Nasampang di au, aduadungku magodang,
           Molo saut ho diau, hita natau ripe sonang,
  Asal ma olo amang boru mambaen ulaon di pogu ni    alaman,    diantaran na bidang

Songonima alus ni boru ni rajai, paboa naung marpangoli, Tangkas mav naung udur hita sian bagas Joro ni Tuhanta, patupa pamasu-masuon pardongan saripeon ni anak dohot boru ni hula-hulai, marhite-hite naposona, Asa onpe rajanami;, sai rongkapna gabe ma boru ni rajai, rongkap matua. Sipalas rohani hami boru muna suang songoni humuna hula-hula. Hombar tu pangidoan ni rajai, laos ditingkion ma hami pasahathon sinamot, somba ni uhum somba ni adat, dipogu ni alaman ditongani si mangajana, ima sitangkas ni panggabean, sitangkas ni parhorasani  rajanami.
Botima !

RPB:   Gabe ma jala horas amang boru,,,!
“nungnga tangkas las rohanami, songon pangidoan munaido nang pangidoan nami, sai rongkapna gabe ma tutu rongkapna matua, sipalas roha ni amang boru suangoni hami Hula-hula, nuaeng pe diantaran na bidang on, ditonga ni simangajana, rohamu pasahathon sinamot nagok
Pat ni Gaja do inna tu pat ni hora,
Tanda ma hamu anak ni raja , pahompu ni namora

Nungnga pitu lili nami, pawaluhon jugian nami,
Nungnga uli nipinami, ai godang sinamot jaloon nami,
Botima,!!

RPA:   Gabe ma jala horas rajanami,,! “adat dohot uhum do nanidok ni rajai, tung sangap do hamu rajai dihami boru muna,  nasa tuk ni gogo nami bahenon nami do pasangaphon rajai. Ai tangkas do hubotohami rajai,  
Dang duhut-duhut ni dulang, alai duhut-duhut ni tolong,
                    Hula hula nami ,,,,,,(maraga) naso pala gulut di uang,  alai gulut di holong.
          Jadi nasatolap gogo nami rajanami, patupaon nami do laho pasangaphon hula-hulai.
          Botima,

RPB:   Gabe ma jala horas Amang boru,,
          Sar do inna barita , pur do alu-alu, dibarita hagabeon ni hamu amang boru, sian najolo sahat rodi nuaeng,” Barita ni lampedeng mardangkahon si bulung bira, barita ni hamoraon ni amang boru tarbarita rodi dia, suang songonido nang  hami raja ni hula-hula,………..
          Parjaha-jaha di bibir do hami, parpustaha di tolonan,
          Namalo maminta singir, ni tondi namasipaoloan, asa nuaneng pe amang boru ai nungnga marsipaoloan tondi ni boru nami, dohot anak muna , asa tangkas ma pasahat hamu amang boru;   - Horbo sabara
                   -Lombu sabara
                   -Hoda hundulan ni amanta raja,
                   -Mas saparangguan, suang songoni ringgit sitio suara,
          Botima Amang boru,

RPA:   Gabe majala horas rajanami,
“Molo didok rajai, molo didok rajai taringot barita hamoraon nami angka najoloi, dang huparsoada hami rajanami, suang songoni do angka barita ni datulang naburju marboru tarbarita do rodidia,
Barita ni bulung singkoru,mardangka sibulung bira,
batita diburju ni tatulang marboru, tarbarita do sahat rodi dia,
las on do nahupangaasahon hami,rajanami umbahen na huberanihon hami ro marsomba tu rajaai,. hombar tu pangidoan ni rajai …………(Margana),tangkas doi psauton nami alai molo siat pangidoan nami jala tumbuk tupangidoan ni rajai, ima Horbo,lombu,hoda dohot mas, Hurupiahon hami ma rajanami,jala molo siat pangidoan nami sahali mangkatahon ma hami jala sahali manambahon.
Botima,

RPB:   Gabe jala horas amang boru,
Taringot dipangidoan muna amang boru, pasahaton muna tuhami sinamont dohot ringgit sitio suara, jala sahali mangkatahon jala sahali manambahon, andoran so hugabehon hami amang boru , pangido hamu jolo panuturion sian dongan parhundul nami hula-hula muna. dohot gogo sian hamu namarhahamaranggi nang dohot noru/bere muna.

RPA:   Gabe ma jala horas rajanami,
“Onpe dihita namarhaha maranggi dohot boru, tarlumobi ma hamu raja ni hul-hula nami, Nungnga hutariashon hami Tu hulahula nami Raja ……….., sahali mangkatahon jala sahali manambahon sinamot nanaeng pasahaton tu nasida, alani pinagido majo gogo tuhamu boru nami, las dipangido muse gogo tu namarhaha maranggi, jala dipangido ma muse panuturion tu hula-hulana. ..(dung singkop sude)  dihatahon ma:
“Raja nami Raja……………,
Nungnga sisada urdot hami, sisada tortoran,
jala nungnga sisada unduk hami, jala sisada pandohan

asa pege sangkarimpang, tu assimun sada holbung
mangangkat rap tu ginjang, tu toru rap manimbung,
Pasahaton nami ma tu rajai sinamot sahali mangkatahon, las sahali manambahon.
Botima,

RPB:   Gabe jala horas amang boru,
“Nuaeng pe dihita namarhaha maranggi, boru nang dohot bere.! raja naginokkon tarlumobi raja ni hula-hula nami, dipangidoan ni borutta  naung sisada urdot sisada tortoran, naung sisada undukl jala sisada pandohan nasida , alani dipangido hami majolo alus sian hamu boru nami, dipasahat ma muse tu namarhaha maranggi, laos dipangido ma panuturion sian hula-hula. Didompakkon tu adopan ni hula-hula ;” Rajanami raja bolon, tangkas songon  na tinangi muna, pangkataion nami dohot raja ni boru nami, alai ditingkion pangidoan nami ma panuturion sian hamuna,
Molo manatap inna sian tuktuk, tarida ma tano palopo,
jumolo hami marsantabi tuhamuna hula-hula rajani nabisuk, jal rajani namalo,
 aut tung adong pangkataion nami namarjolo hupudi, songo labe-labe ni nahurang molotung humurang hami dihata, sotung unang mangkurangi diangka pangalaho, hita angka anak  ni raja jala pinompar ni namalo, asa tuturi hamu hami, rajanami diangka pangkataion nami, Botima rajanami,

Laos dipasahat ma Mic dohot panduan tu hula-hula jala dung simpul panuturion sian hula-hula, las diuduti ma muse hatana;”
Nuaeng pe amang boru nungnga hujalo hami  panuturion sian hula-hula nami, dohot boru nami taringot tu pangidoan muna amang boru sisahali manambahon nuaeng pe hu gabehon hami mai, hatahon amang boru ma!...

RPA:   Gabe majala horas Rajanami;
Mauliate malambok pusu ma hupasahat hami tuhamu saluhut uduran ni hula-hula nami, Jadi nuaeng pe rajanami pasahaton nami ma, sinamot tu rajai Godangna …….100.000.000 (saratus juta). Hamu hasuhuton nami borhat ma hita pasahathon sinamot tu hula-hulanta  jala andorang so dipasahat tu suhut parboru jumolo ma tu parsinabul asa dietong

Songoni mangihut muse ma tu angka suhi ni ampang na opat Dijouhon ma manurut urutanna sesui tu daftar panduan adapt. songon cotoh:
-       Paramang tuaon
-       paramang udaon
-       upa pariban
-       upa tulang

Dung masuk tu suhi ni ampang na 4 Simalohon, Alana simalohohon I tabodoi, jala godang sipata angka naposo dope nasida ( dang boi dope manjalo adat.
Dung sai sue dipasahat masuk ma tu ulaon na mangulosi
 (sesuai  Buku panduan )




Kamis, 29 September 2011

Panduan Pangkataion di pesta Unjuk (adat Batak Toba)

PANDUAN PANGKATAION DI PESTA UNJUK (PARSINABUL)


Lambang rumah adat Batak
Andoran so sahat dope Pengantin dohot sude uduran ni Hasuhuton (Parboru manang paranak), nungnga jumolo mangarade Protokol sian pihak Parboru songoni nang sian Paranak.

Nb:
-Molo parboru do bolahan amak pintor dipasahat protocol ni parboru ma inganan tu protocol ni paranak
-Biasanya Protokol ditontuhon sian paidua ni hasuhuton

Keterangan : PROTOKOL: (PB; Protokol parboru) (PA: Protokol paranak)

P B: Dihamu amang boru namai marga………….., nungnga huparde hami     inganan dihamu ima disabola hambirang masuk tu bagas gedung on.

P A: Mauliate marajanami di inganan napinasahat muna tu hami. “ Onpe dihita namarhaha maranggi pinompar ni ………..(didok ma margana) , suangsongoni nang raja naginokkon dohot inanta soripada, suang songoni dongan sahuta dohot ale-ale nami, ‘ nungnga dipasahat hula-hula i, tuhita inganan asa masuk ma hita amang / inang.

PB: Suang songoni ma dihita namarhaha-maranggi pinompar ni ………(didok ma margana), rodi boru,bere, ale-ale dohot dongan sahuta, “ Amanta raja / inanta spripada asa masuk ma hita tu gedung on ! nungnga rede dihita inganan sian saboloa siamun laho masuk tu gedung on, mauliatema.

NB: Hula-hula ni Parboru dohot paranak dang masuk dope tubagas gedung ala tersendiri do panjaloon tu nasida.

PB: “Dihamu Amanta raja , inanta soripada ala naeng masuk nama pengantin naniudurhon ni hasuhuton Parboru dohot paranak asa” tasambut ma nasida jala jong-jopng ma hita !,,,, (Masuk ma pengantin dohot uduranna Naniiringi ni musik Sahat tu pelaminan jala marsibuat hundulanna ma hasuhuton hombar tu naung disepakati).
Dung singkop sude dihundulan na diuduti protocol parboru ma muse dinalaho manjalo haroro ni hula-hula

PB: “Dihamu hula-hula nami, (dijouhon ma margana hombar tu urutanna naung tarsurat di buku panduan pesta)
Rajanami,- raja bolon,, asa masuk ma hamu rajanami ai nungna rade hami laho manomu-nomu !. (dilapis ma hatana molo sahali panjaloon do uduran ni Hula-hula) Molo tung sahali manjalo hami di haroromuna asa tung ulima roha ni Rajai mauliate ma, laos dipinta ma musik….

NB; Hula hula mamboan boras dohot dengke, jala nungnga mangarade boru ni suhut parboru laho manjalosa.

Dung singkop sude hula hula ni parboru hundul di ingananna jal dipasahat ma partingkian tru paranak laho manjalo haroro ni hula-hulana.

PA: “Dihamu hula-hula nami, (dijouhon ma margana homar tu urutanna naung tarsurat di buku panduan pesta)

Rajanami,- raja bolon,, asa masuk ma hamu rajanami ai nungna rade hami laho manomu-nomu !. (dilapis ma hatana molo sahali panjaloon do uduran ni Hula-hula) Molo tung sahali manjalo hami di haroromuna asa tung ulima roha ni Rajai, Muliate ma ..laos dipinta ma musik….

NB; Hula hula mamboan boras dohot dengke, jala nungnga mangarade boru ni suhutparanak laho manjalosa.
Somalna digorahon dope atik adong dope angka uduran ni hula hula naso masuk tu gedung jala malo dung singkop sude las diuduti ma pangakataion.

PB: “Amang boru , boha nungnga boi tauduti ulaonta?

PA: Gabe ma jala horas rajanami. asa mangarade ma rajai asa rohami laho mandapothon .( Didompakhon ma bohina tusude dongan tubuna las didok :”Dihita hasuhuton roma hita tuson , asa borhat hita mandapothon hula-hulanta,! laho, pasahat pagori ni sipanganaon ( Pagori Bahasa halus ni tudu-tudu ni sipoanganaon red)

PB: “Dihita hasuhuton parboru, romahita tuson ala naeng roma pamoruonta mandapothon hita laho pasahat pagori ni sipanganon.”

PA: “Dihamu hula-hula nami Rajai……..(Dijouhon margana), Rodi sude uduran muna, Dison rodohami raja ni pamoruon muna pasahathon pagori ni sipanganon na jagar tu adopan muna. sai jagarma tutu panggabean, jagar nang parhorasan, dihita namarhula-hula marboru tujoloanon,. Molo tung songonon dope naboi tarpasahat hami tung las ma rohamuna rajanami,

asa sititip ma inna sigompa,
golang-golang pangarahutna
otik sosadia nahupasahat hami rajanami,
Amanta Debatama namanggohi pasupasuNa,

Botima,

Nb: Molo dison dang pola dope marsijalangan , Alana dumengganan do sekalian dukkon sai di pasahat dengke sian hula-hula.

PB: Dihamu raja ni boru nami, dosdo tutu tuatna jala dos do nang nangkokna, asa mangarade ma hamu asa ro hami laho pashatho dengke nami tu hamu saluhutna.

PA: Nauli ma rajanami, “ Dihita namarhahamaranggi rade mahita laho manjal hula- hulanta “ nungnga rade hami rajanami.

PB: “Dihamu raja ni pamoruon nami marga ,,,,,,,,,,,,(Diddok margana). diari nauli nadenggan on, dparnangkok ni mata ni ari on rodo hami hula-hula muna ………….(didok margana), pasahathon dengke simudur-udur dohot dengke sitio-tio songoni dengke sahat.

dengke sigagat limut maon, namarlindung-lindung dibatu, parhitean ni tangiang, pamintaan ni angka pasu-pasu. asa asima roha ni amanta Debata sai tioma aek inumon muna sai tiur dalan boluson muna dingolu ngolu namanongtong,

Tio ma ninna songon mata ni mual,rintar songon bonang di gala,
asa tiurma songon sinondang ni bulan,rintar songon bintang na purasa

angka ulaonta sadarion pasu-pasuon ni amanta namartua Debata. Molo tung songoni pe naboi tarpasahat hami, amang boru ‘ las marohamuna Botima

(…….baru pe Marsijalangan……..)

PA: Diadophon ma bohina tusude dongan Tubuna didok:” dison nungnga hujalo hami dengke simudur-udur dengke sitio-tio sian hula-hulanta, tung dijolo ni hasuhuton pe on nuaeng , naung rap manjalo ma hita hita .

PB: Dihita saluhutana namarhaha maranggi : amanta raja dohot inanta soripada dison hujalo hami do pagori ni sipanganon, sian pamoruonta, tung dijolo ni hasuhuton pe on naung rap ma manjalo ma hita.

PB: Amang boru raja ni borunami ,” ala hamu do naro tuhuta nami non asa hamu8 ma namambahen tangiang mangan asa marsipanganon hita !.

PA: Nauli ma rajanami …….Las dimulai ma martangiang. Dung amen las diuduti ma hatana : Sititi ma sigompa golang golang pangarahutna,
atik sosadi nahupatupa hami rajanami, sai amanta debatama namanambai pasu-pasuNa. Rap manjomuk ma hita!!!!!!.

PA: Dihamu hula-hula nami rodi sude angka Tulang nami, naeng roma hami pasahathon sulang-sulang natabo tuhamu. mangarade ma hamu rajanami ! (Laos mardalan ma angka namartugas laho pasahathon sulang-sulang)

PB: Dijahahon ma angka dengke siuk naro sesuai dafta naung tarsurat.

PA: Manjahahon angka dengke siuk naro sian hula-hulana.

(Dung sai marsipanganon)

PB: Dihamu raja ni pamoruon namai marga………. Amang boru,: sai jolo dinang-nag do asan ninung-nung, jolo nipangan do asa ni sungkun, “ dison nungnga sahat tuhami pagori ni sipanganonta asa dos ma rohanta amang boru songon dia ma bahenonta parpeak nion asa taatur Amang boru !..

PA: Gabe ma jala horas rajanami, naung hupasahat hami tuhamu rajanami, asa rajaima namangaturhon, songon dia pangatur ni rajai naung gok ma roha nami, mauliate .

PB: Molo hasomalan di luat Samosir (contoh) , molo masa pamuli boru dang mardalan jambar taripar,. alai molo tu tulang ni hela tong do dipasahat, sian ihur-ihur paboa nasahasuhuton jala sisada boru.

Alai molo nasomal diulahon di Jakarta on tarsongonon ma partoringna.:

- Dipasahat sambola pipi parhambirang
- satonga gomgoman (aliang)
- satonga somba-somba
- dua soit.

Songoni ma amang boru, partording ni parjambaran tu hamuna asa dibahen boru mai baru pe asa dipasahat tuhamuna!!.

NB: Hampir dos do dohot sigagag duhut

PA: Mauliate ma rajanami, laos dijouhon ma pamoruonna laho patupahon parjambaran i .

PB: Onma parjambaran tu hula-hula nami, Osang ma himpal. jambar ni tulang, sian gomgoman (aliang,), tu bona tulang, sian somba-somba . hula-hula namarhahamaranggi pe tong ma sian somba-somba dohot anak manjae. Jambar tu tuboru ;pipi nasomarngingi. Tu dongan tubu dibuat sian ihur-ihur. Ale-ale ,dongan sahuta, pangula ni huria; dibuat ma sian soit.

Jambar tu tulang ni hela dibuat ma sian ihur-ihur. Songoni ma amang boru !!.

PA: Dijouhon ma parjambaran dibuat nasian gomggoman (aliang) dohot somba-somba. Laos dibagi sian soit tu namarha-ha maranggi.

PA: Dihamu raja ni Hula-hula nami; marga………… “ mangido mahami tuihamu rajanami, asa lehom hamu ma jolo partingkian tu hami laho mangido pangurupion (papungu tumpak) sian dongan tubu ,boru,ale-ale dohot dongan sahuta.

PB: Nauli rana ni boru, Ulahon hamuma…!

PA: Dihamu raja ni boru nami, bere, dongan tubu, songoni tu ale-ale dohot dongan sahuta, rodi sude tahe namanghaholongi hami, ditingki on ma hami sian hasuhuton mangido pangurupion , marhita hita napapungu tumpak asa robe ma hamu amang inang ……..(dipinta ma music)

NB: Dung sai papungu tumpak diampu protokol ma mandok mauliate tu sude namanghaholongi.

PA: Mauliate ma dihamu amang raja inang soripada disude denggan basa napinasahat muna tu hami, tarlumobi ma tuhasuhuton bolon. Tuhanta ma mambaloshoni Tu hamu marlipa ganda tujoloan on. Butima. (dungkoni didompakkon ma tu pengantin jala di arahhon ma pengantin boru laho manjomput sian tumpak i. dung i dipasahat ma tumpak i tu hasuhuton bolon.

PB: Dihamu raja ni pamoruon nami, nungnga boi udutanta pangkataionta ??.

PA: Nauli rajanami..

PB: Didompakkon ma maradophon hula-hulana, “ Dihamu hula-hula nami; Tulang nami, tulang rorobot, hula-hula namarhaha maranggi, sung songoni hula-hula ni anak manjae. Hulahula nami:, Ala naeng mangkatai ma hami dohot raja ni pamoruon nami, asa roma hamu rajanami ai nungnga huparade hami inganan di sabola halang ulu nami mauliatema.

PA: Didompakkon ma mardophon hula-hulana, “ Dihamu hula-hula nami; Tulang nami, bona tulang, tulang rorobot, hula-hula namarhaha maranggi, suang songoni hula-hula ni anak manjae. Hulahula nami:, roma hamu rajanami jala tuturi hamu hami, ai nungnga huparade hami inganan di sabola halang ulu nami !, mauliatema.

PB: Onpe dihita namarhanha maranggi, pomparan ni ompunta Raja……..(margana)

Togu ninna urat nibulu, paihot-ihot bona ni salaon,
Hot do hita namardongan tubu las sada do hita diangka ulaon
Jala hata nisitua-tua namandok:
Bulung ni rantingna do inna , Bulung ni dangkana,
Ulaon ni angina do molo ulaon ni Hahana

Asa:

Tinallik ma inna sibut-sibut, pataridahon holi-holi
Molo hami haha doli ( anggi doli ) ma nagabe suhut
Hamuma anggi doli ( haha doli) ma nagabe panamboli.
Nuaeng pe partingkian on hupasahat hami ma tuhamu, anggi doli (hahadoli nami, nalao manungkun haroro ni pamoruontta marga……..Mauliate ma

(…….dipasahat ma mik tu nasida……….)

Dijalo haha / angina ma mic jala marsiaritan hata laho manontuhon manang na ise parsinabul (raja panungkkun) atikpe naung ditontuhon tingki tonggo raja hatana songonon ma:

Onpe dihita haha/anggi doli pomparan ni ompunta marga …………

Didok situa tua:

"Togu ninna urat nibulu, paihot-ihot bona ni salaon,
Hot do hita namardongan tubu las sada do hita diangka ulaon "

Nungnga dipasahat hasuhuton bolon tuhita nagabe panomboli. Ni ulaonta
sadarion, antong ise mahita nagabe raja panungkun ? jala dialusi salah satu ma namandok : antong sian hamuma didok ma sesui tu naung ditunjuk hinan.

NB: songoni ma nang pangkataion sian parananak laho pasahathon nagabe parsinabul ni nasida ( nagabe raja pangalusi)

Ikuti Selanjutnya
Besambung Ke Bagian II Sian Raja Parhata Parsinabul ……………………



Jumat, 22 Juli 2011

MANABALHON HUTA

Pendahuluan


Huta Tonga adalah bagian integral dari Desa Silantom Jae dan merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai mana termaktub dalam BAB I Pasal 1 ayat 5 Peraturan Pemerintah RI No.72

Kepentingan masyarakat setempat dan pelestarian adat istiadat Desa (Huta) adalah menjadi tanggung bersama untuk mewariskan kepada generasi muda agar selalu bangga terhadap jati diri maupun budayanya paling tidak dapat membantu dalam hal pengenalan jati diri. Demikian juga “Huta Tonga” dengan penduduk + 18 KK dan + 80 Jiwa ditambah satu fasos Rumah Ibadah dan satu unit Fasum SD Inpres Silantom Jae tingal dalam satu kesatuan kominitas dengan hidup rukan dan tentram diikat rasa persaudaraan maupun kekeluargaan yang mendiami satu wilayah kemudian disebut Desa (Huta) walaupun satu-kesatuan wilayah dan administrasi pemerintahan dengan desa Silantom Jae tetapi status untuk ADAT HUTA seyogianya dapat berdidri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan Perkampungan lainnya yang ada di sekitar Luat (Daerah) Silantom sekitanya.

Bertitik tolak Dari pemikiran diatas maka masyarakat yang tinggal di Huta Tonga bersama anak rantau  menyatukan tekad untuk meningkatkan status adat huta Terebut scara “adat dan budaya” agar huta tersebut “Ditabalhon” (ditetapkan /establishment) sesui cita-cita dan rencana pendahulu yang belum ter-realisasi. Sehingga menjadi tanggung jawab generasi berikutnya. Seperti tertuang dalam filosofi Batak (Ompui jolo martukkot siala gundi, pinungka ni parjolo pauduton ni parpudi).

A. Aspek & Tujuan
Disamping faktor adat dan budaya , masih ada beberapa Aspek yang menjadi pertimbanan dilaksanakannya Panabalan Huta tersebut seperti:
  1. Pelestarian Budaya (Preservation of Culture)
  2. Meningkatkan hubungan kekeluargaan (Increasing of  family relationships)
  3. Peningkatan   Ekonomi (Increased of Economic) 
1.Pelestarian Budaya (Preservation of Culture)

Pengaruh globalisasi  sudah merambah ke Desa-desa yang selama ini masih hidup dalam nilai-nilai budaya maupun adat istiadat . sehingga banyak generasi muda tidak lagi mengerti akan kearifan lokal yang sesungguhnya menjadi kekayaan budaya nasional yang menjadi warisan leluhur  dan harusnya   dilestarikan.
Demikian halnya acara adat manabalkon Huta, adalah termasuk acara adat yang paling jarang dilaksanakan oleh generasi sekarang sebab penyebaran kependudukan cenderung  mengarah  ke daerah perkotaan (urbanisasi) sehingga pembentukan Kampung yang baru menjadi langka termasuk tata cara adat istiadatnya. untuk itu selagi  tokoh-tokoh adat ataupun orangtua masih memahami akan pelaksanaan adat tersebut  sangat bijaksana bila kesempatan ini dipergunakan oleh generasi muda menjadi ajang Transfer ilmu .

Meningkatkan hubungan kekeluargaan (Increasing of  family relationships)

"Ringan sama dijinjing berat sama dipikul" itulah semboyang masyarakat desa pada umumnya yang selalu dilaksanakan dengan wujud gotong-royong. demikian pula setiap acara adat bersama,  mereka tidak pernah hitung-hitungan atas pengorbanan moril maupun materil.
 Pada saat itu pula rasa kekeluargaan akan semakin erat sebab kepentingan bersama yang di kerjakan bersama-sama dengan sendirinya akan menimbulkan ikatan kekeluargaan.
Suasana tersebut akan semakin hangat apabila  perantau dengan penduduk desa dapat duduk dan bekerja bersama-sama melaksanakan pekerjaan sambil mengingat kembali nostalgia  sewaktu .masih tinggal di Desa. 

Peningkatan Ekonomi (Increased of Economic)

Diharapkan kepulangan perantau dan tingginya aktifitas masyarakat Desa selama penyelenggaraan Pesta dapat menggerakkan  ekonomi . karena  disamping sumbangan yang diharapkan dari perantau untuk terselenggaranya acara  tentu mereka juga akan membelanjakan uang selama tinggal beberapa saat  di Desa. 
Aktifitas yang  demikian .sudah barang tentu dapat meningkatkan ekonomi walupun hanya untuk ukuran masyarakat Desa.


Untuk "Mari Kita berjuang dan bekerja keras" demi  kebaikan dan pelestarian budaya !!